Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2017

Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS)

Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) dibuka di Alun-Alun Utara Yogyakrta Jumat (10/11/2017). Pembukaan PMPS dihadiri oleh Wakil Gubernur DIY, Sri Paduka Alam X dan Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Purwadi. Sekaten berasal dari bahasa Arab yakni Syahadatain atau dua kalimat syahadat. Pada dasarnya, sekaten adalah suatu tradisi yang telah ada sejak zaman Kerajaan Demak yang sampai saat ini masih dilestarikan   oleh Kraton Yogyakarta dan Surakarta. Sejumlah permainan dan hiburan tersedia pada PMPS. Tak lupa ndog abang dan nasi kuning selalu ada untuk menghiasi jajanan sekaten. PMPS tahun ini digelar pada 10-30 November 2017 di Alun-Alun Utara Yogyakarta. Total stand yang disediakan sejumlah 486. Penyewaan stand dilayani di Kantor Dinas Perindustrian Kota Yogyakarta lantai III Pasar Beringharjo.

Adik Sepupu

Adik sepupuku datang ke rumah. Dia galau dengan soal Matematikanya. Hari esoknya semacam simulasi UN SMP. Berkat kegalauannya itulah yang mendorong dia datang ke rumahku. Rumah Upin Ipin. Adik sepupuku yang satu ini gokil banget. Jadi, kalau ada Upin Ipin sama dia, ketawa kita nggak habis-habis. Ada aja topik yang kita bahas. Nyambung banget kitanya. Terbaiklah adik sepupu yang satu ini. Adik sepupuku ini dibuat galau dengan kongruen, fungsi, persamaan garis, dan lainnya pokoknya dengan hal-hal yang berhubungan dengan matematika ini. Untuk anak SMP sedikit banyak aku masih bisa ngerjain soalnya. Tapi, untuk tingkat SMA nggak bisa. Soalnya aku jebolan SMK. Notabene matematika materinya tidak sedalam anak SMA. Hal yang ngemesin dari dia adalah kadang paham kadang enggak kalau diajak bicara. Tapi bukan tentang materinya. Masalah lainnya. Tapi, senengnya kita nyambung banget. Berfikir-fikir bareng. Ketawa-ketawa bareng, lucu-lucuan juga bareng. Asiklah pokoknya. Fungsi, oke

Kora-Kora

Ada yang pernah datang ke pasar malam? Mayoritas pernah kan ya. Walaupun hanya sekedar melihat, jajan makanan, atau hanya lewat di sekitarnya saja. Wahana di pasar malam pun macam-macam. Ada komedi putar, itu ternyata bikin pusing. Tapi, saat kecil kenapa kita tidak pusing yaa saat menaikinya? Ada sangkar burung, ini favoritku. Ada kora-kora, ada ombak air juga. Orang sekitarku menamainya ombak air karena gerakannya mirip dengan ombak. Rasa penasaranku memang sangat tinggi. Ketika teman-teman membicarakan kora-kora aku hanya bengong saja. Aku belum pernah menaiki kora-kora. Adrenalin apa sih ketika duduk di kursi kora-kora? Aku tidak tahu, hingga saat itu rasaku terjawab sudah. Modal nekat aku mengajak adikku naik. Adikku awalnya nggak mau. Katanya pernah dan kapok saat menaikinya. Aku pun tidak percaya alasannya. Pokoknya kubujuk hingga dia mau. Akhirnya mau juga. Kami duduk di bangku tengah. Nggak punya nyali untuk duduk di bangku depan sendiri atau belakang sendiri. Setelah menu

Kacang dan Ubi Jalar

Aku memohon kepada adikku untuk membeli kacang dan ubi jalar ke pasar. Tentu saja ditemani sang ibu. Sabtu pagi itu aku tidak bisa membeli sendiri ke pasar. Ada kegiatan yang harus kujalani. Adikku pun menyetujuinya. Kami bagi tugas. Adikku yang beli dan aku yang merebusnya. Sesederhana itu. Ternyata, untuk menghasilkan kacang rebus dengan penampilan yang menarik, dibutuhkan proses perendaman. Air akan melarutkan tanah-tanah yang menempel pada kacang. Saat aku mencuci kacang mentah, “Bagaimana tanggapan Upin tentang masalah yang hits saat-saat ini” Adikku menyodorkan ubi jalar terbesar yang dia beli kepadaku. Berpura-pura bak reporter tv nasional yang sedang meliput bencana. Kemudian, aku tak kuasa menahan tawa. Karena tingkat kemiripan wajah yang tinggi itulah anak-anak sekitar rumah meamnggilku Upin karena aku sebagai kakaknya dan adikku Ipin. Jauh lebih simple ketika memanggil namaku, “Pin” Haisss, nama hits Upin Ipin langsung cepat menyebar ke pelosok kampungku. Emang kampung

Film

Rapat bulan lalu aku kejatah cari film untuk nobar acara kepemudaan kampung. Nobar dalam rangka peringatan hari Pahlawan. Walaupun hari pahlawan lewat sehari tapi nggakpapa lah ya masih suasana-suasana nasionalisme gitu. Antara bingung dan bingung. Yang ngelihat filmnya nggak Cuma segmen kepemudaan saja, kadang ada anak kecil usia SD yang ikut nimbrung. Film apa ya yang mau di tonton bingung juga. Berkat copas dari sebuah warnet akhirnya aku mengantongi lima judul film. Sayangnya, yang judulnya Jenderal Soedirman Cuma muncul suaranya aja. Yaaaahhh, padahal kan aku mau judul itu yang di putar. Pilihan kedua jatuh ke judul Guru Bangsa Tjokroaminoto. Aku dapat pesan dari sebuah pemudi bahwa diusahakan di lihat dulu filmnya untuk menghindari adegan yang mengotori anak-anak. Huaaaa sampai h-satu jam aku pun belum lihat filmnya. Minggu ini aku sedang uts di saat temen-temen lain udah kelar uts nya. Minggu ini aku focus mengahapal materi haha. Film-film sejarah pun Cuma teronggok di laptop.

Rasa

Aku pernah naik darah dengan seorang anak  di masjid kami. Lalu, ku diskusikan dengan adikku. Hal apa sih sebenarnya yang membuat kami marah, sebel, atau rasa sejenisnya. Temen-temen remaja masjid pun sama. Mereka juga naik darah. Tiap kali aku diskusi dengan adikku. Buntu adalah jawaban akhirnya. Tak pernah bisa dijelaskan dengan kata-kata. Hal atau tingkah apa sih yang sebenarnya membuat anak yang satu itu selalu salah di mata kami. Kalau aku marah, aku hanya diam menahan emosi. Tapi, suatu ketika saat ada masanya perempuan menjadi singa yang tidak bisa di senggol sedikitpun, aku memilih pergi. Anak itu kayaknya biasa saja. Tapi, ada saja hal yang selalu berhasil membuat kami naik darah. Lalu memilih pergi menghindari. Coba kamu perhatikan. Apa yang salah dengan dia? Nggak ada. Tapi, kok rasanya di hati ada yang mengganjal. Sulit dijelaskan. Itulah hal unik dari perasaan. Ada hal yang hanya bisa kamu rasakan, namun tidak bisa kau jelaskan dengan detail. Tak bisa kau menjelaskan gi

Taman

Kali aku pertama bertemu Dengan sosokmu Di sebuah bangku taman penuh cahaya lampu Bermandikan hujan dan gerimis sendu Remang-remang wajahmu Momen lima tahun yang lalu, Sudut taman berkursi jati Melambangkan kekokohan hati Bersamamu di sini Menceritakan mimpi-mimpi Kau penuh binar kebaikan hati Membuatku tak bisa lupa hingga saat ini Di sudut taman ini Kau juga memutuskan pergi Tak kembali lagi Apakah aku sebodoh ini? Menunggu datangmu tiap minggu pagi Seperti janji temu sebelum kau pergi

Rani dan Rina

Rina dan Rani adalah kakak adik. Mereka dua bersaudara. Jarak kelahiran Rina dan Rani hanya dua tahun. Mereka berdua berkacamata. Rina berambut lurus sedangkan Rani tidak. Suatu ketika kepemudaan kampung diminta untuk melayani tamu yang hadir di acara pernikahannya Sila. Rina dan Rani hadir memakai seragam batik kepemudaan, begitu juga yang lainnya. “Mbak Rani, tolong ya di deretan tamu sebelah sana snacknya berjumlah tiga puluh saja ya. Orangnya sudah dihitung Ibuk kok” “Oh iya buk, oke. Jumlahnya tiga puluh” Rani membawa nampan berisi snack. Di ingat-ingat kembali perintah Ibu tadi. Berapa ya jumlah snack yang harus di antarkan. Empat puluh, sekelebat ide terlintas. Rani berjalan sambil berfikir. Ekspresinya pun tampak bahwa Rani sedang mengingat-ingat sesuatu. “Rin, aku lupa. Snack yang harus ku antar tadi berjumlah berapa ya?” “Haisss kau ini Ran, gitu aja lupa” “Berapa to Rin? Berikan jawaban itu kepadaku. Aku harus segera mengantar snack ini Rin. Amanat woy amanat” “Tiga

Jajanan Anak TPA #2

27 Mei 2017~ Lagi-lagi di tarawih kedua tanpa kehadiran Anto. Aku yang nggak boleh sholat tarawih hanya berkegiatan di rumah saja. Adikku yang pulang dari masjid membawa kabar, “Mbak, tadi Mbak Ninggar sholat di deketnya lek Anti” Lek Anti adalah buliknya Anto. “Trus?” Aku tampak tidak bersemangat menanggapi adikku cerita. “Trus tadi Mbak Ninggar nangis ngedenger ceritanya Lek Anti” Aku berpikir. Ada apa dengan kondisi Anto. Hingga terdengar kabar, pukul sepuluh malam itu. Putri mengabarkan bahwa Anto akan di bawa pulang untuk di rawat di rumah. Hah? Itu tidak masuk akal bagiku. Dalam keadaan yang serius akan di rawat di rumah? Kan lebih baik di rumah sakit, selain steril juga banyak tenaga medis di sana. Kenapa di bawa pulang? Akhirnya aku debat dengan putri via japri, tidak di grup. Mana masuk di akal? Selang kemudian terdengar kabar, Anto sudah tidak ada. Aku terpaku menatap layar hape. Ya Allah, secepat ini Kau mengambil adik, kakak, teman kami di usia yang ke tujuh belas. Iy

Jajanan Anak TPA #1

Aku dan adikku kerap dipanggil Upin-Ipin karena tingkat kemiripan kami yang dibilang kembar. Padahal mah beda sekali, seperti pada postingan yang ku post sebelumnya. “Pin, tadi aku di certain Ajeng” Ipin memulai bercerita. Ajeng adalah sepupu kami. “Cerita apa pin?” “Hari ini snack anak TPA diminta oleh Lek Jati. Jadinya, bukan dasawisma yang ngejatah snack anak TPA tapi Lek Jati. Katanya sih, hari ini Anto ulang tahun” Aku tergugu. Jleb. Sebilah belati serasa menusukku siang ini. Hari ini adalah hari Ahad. Anak-anak biasanya TPA di hari Ahad sore jam empat lebih hingga ba’da Maghrib. Setelah sholat Maghrib anak-anak berkumpul di serambi masjid sebelah utara untuk makan snack bersama-sama. *** 16 April 2017~  Hari Ahad itu TPA kami meluncur ke Taman Pintar dan Benteng Vredeburg di Kota Yogyakarta yang hanya berjarak tidak lebih dari delapan kilometer dari masjid kami. Pertama kalinya kami outdoor bersama anak-anak TPA. Semuanya gratis ditanggung oleh pencari dana TPA. Berikan te

Putih Abu-Abu #2

Aku mengingat-ingat teknik yang dijelaskan sebelumnya. Tangan kanan memegang tali yang ada di bawah badanku. Tangan kiri memegang tali di atas kepalaku. Aku turun perlahan. Tangan dan badanku tidak bergerak sama sekali. “Diulur talinya mbak pakai tangan kanan” “Takut pak, nanti kalau jatuh gimana?” “Enggak. Diulur sedikit demi sedikit saja” Kaki ku menapak papan yang arahnya vertical. Jadi, posisiku membentuk sudut 90 derajat.  Daripada aku nggak turun-turun ke bawah, aku mengulur tali. Kurengganggkan pegangan taliku dengan kedua tangan selama dua detik. Aku menjejakkan kaki kemudian. Lalu, ku kencangkan pegangan tanganku lagi. Aku berhasil turun sekian meter saja. “Bagus mbak, lanjutkan lagi sampai ke bawah” Teman-teman ku di bawah sana bertepuk tangan sambil bersorak. Aku tidak takut lagi rapling setelah adegan pemaksaan naik oleh pak polisi. Terimakasih pak. *aku nulisnya dengan keringat yang pelan-pelan keluar dari telapak tangan dan telapak kaki* Hari itu kami latihan upac

Putih Abu-Abu #1

Katanya, masa putih abu-abu adalah masa yang paling indah. Menurutku, masa putih abu-abu adalah salah satu masa yang paling indah. Entah bagaimana ceritanya, tetiba saja aku rindu pada masa itu dan ingin menuliskannya disini. Kelas X~ Sekolah kami memang agak beda dengan sekolah negeri yang lain. Asli bedanya. Saat kelas X ada pendidikan kedisiplinan. Nah, selama tiga hari dua malam kami menginap di salah satu Brimob di Yogyakarta. Seluruh siswa di kumpulkan di lapangan milik Brimob. Pak polisi meneliti satu per satu peserta. Bagi siswa yang peralatannya sudah lengkap di persiapkan masuk ke lokasi tempat tidur. Sepanjang mata memandang hanya ada tikar yang di gelar. Padahal, kalau di rumah aku bakal di marahi ketika tidur di lantai. Benar saja, kita hanya tidur di atas selembar tikar. Hiks. Pak polisi nya berjumlah belasan orang yang akan mengawasi kegiatan kita. Ada yang wajahnya tampak galak, biasa saja, dan lucu. Pak polisi yang berwajah galak biasanya ditakuti teman-temanku. “

Kakak dan Diet

Aku makan siang dengan lahapnya. Apalagi dengan kerupuk ada pula sambal. Wahhh ini nikmat sekali. Makan siang tak afdhol kalau tak pakai kerupuk dan sambal. Saat aku menyuapkan sendok ke mulutku, “Dek, mbok dikurangi maemnya. Diet” Wajah kakakku tak nampak bercanda. Aku hanya menanggapi dengan alis hampir menyatu. Diet? Kosa kata yang nggak ada di kamus kehidupanku. Muncul di angan-angan pun tidak. Apalagi mempraktikannya? Mustahil. Setelah makanku selesai. “Diet? Ogahh” Aku berjalan menjauh dari kakakku sambil membawa piring kotor. Kakakku hanya geleng-geleng saja. Aku tak habis pikir dengan apa yang dikatakan kakakku. Aku disuruh diet. Tinggiku sekitaran 153 cm, berat badanku 55 kg. Disuruh diet pula. Haisss saran macam apa ini? Menurut tanggapan kakakku, aku ini terlalu gendut dan tidak proporsional. Halah, nggak kepikiran juga aku dengan kosa kata proporsional. Percaya deh iya percaya. Kakakku yang sering lari. Dulu, aku sering diajak lari. Aku disuruh jalan atau naik motor ju