Langsung ke konten utama

Pengalaman Operasi Gigi Bungsu Pakai BPJS, Gratissss!

Setelah mengumpulkan keberanian selama lima tahun akhirnya aku sudah selesai menyelesaikan satu misi. Yakni operasi gigi bungsu. Ini pengalaman operasi gigi bungsu pakai BPJS berdasarkan kisah nyataku. Oh iya gigi bungsu ini adalah gigi terakhir yang tumbuh alias paling belakang sendiri. 

Awal Tahunya Ada Gigi Bungsu

Aku tidak begitu ingat kapan tahunya ada gigi bungsu yang berada di geraham bawah. Seingatnya aku saat itu di tahun 2018 dimana usiaku genap 20 tahun. Ternyata dua-duanya gigi bungsuku sakit. Saat itu aku belum tahu kalau itu namanya gigi bungsu yang mengalami impaksi. Nah loh apa itu impaksi. Impaksi adalah kondisi dimana gigiku tidak tumbuh sempurna. Alias setengahnya muncul, setengahnya terbenam di  gusi.

Ketika temanku sekolah yakni Hafid membuat story instagram di tahun kurang lebih 2020 aku baru tahu kalau aku ternyata punya gigi bungsu yang impaksi. Hafid membuat story yang direpost dari akun klinik gigi. Hafid baru saja cabut gigi bungsu.

Karena aku memang orang yang kepo maka aku cari tahu tentang impaksi gigi bungsu. Jederrrrrrr. Kayaknya aku juga punya nih. Mana dua kanan kiri di rahang bawah. Aku galau dan takut. Karena yang ada di bayanganku adalah rasa sakit. Iya lah namanya juga operasi.

Rasanya Sakit Gigi Karena Impaksi Gigi Bungsu

Di tahun 2018 yang dimana aku belum tahu kalau itu impaksi gigi bungsu aku merasakan sakit. Kalau pakai score rasa sakitnya 8/10. Sakit banget kalau buat ngunyah. Apalagi dua-duanya sakit. Combo banget pokoknya. Ku kira saat itu hanya sakit gusi biasa. Hmmm ternyata impaksi gigi bungsu.

Pokoknya makan serasa ujian. Sakit banget pokoknya. Pada saat itu aku dan teman-teman ditraktir oleh Pak Nur di SS Gading Yogyakarta. Tapi kedua gigi bungsuku sakit. Makanan yang enak rasanya sungguh tidak nikmat. Huahuaa pengen nangis aja rasanya. Tapi tidak sampai bengkak kok pipiku.

Memberanikan Diri Operasi Gigi Bungsu

Semakin lama kok aku semakin merasa bahwa gigi bungsuku ini membuat lubang di gigi. Makanan jadi lebih sering nyelip di gigi bungsu dan gigi gerahamku. Kayaknya semakin tidak beres. Padahal dulu enggak nyelip. Aku jadi lebih susah membersihkan gigi.

Saat sedang nyaman-nyamannya menjadi panitia pekan olahraga kalurahan cabang voli tetiba gigi bungsuku yang kanan sakit kembali. Kalau yang ini score sakitnya masih biasa yakni 5/10. Mau operasi gigi bungsu tapi nanggung. Nanggung kalau aku jadi tim dokumentasi menggunakan kamera DSLR dan mendesain pertandingan. Jadi kurang lebih 10 hari pertandingan. Dengan jeda libur sehari setiap dua hari bertanding berturut-turut. 

Sayang banget rasanya. Mana tinggal sebentar lagi. Makanya sakit gigi bungsuku ini aku tahan deh. Usai selesai pekan olahraga kalurahan cabang bola voli aku memutuskan untuk memberanikan periksa.

Namun yang menjadi kendala adalah gigi bungsuku udah nggak sakit lagi. Masak periksa tapi tidak ada keluhan sakit. Hmmm. Boleh nggak sih? Aku kemudian berdoa agar gigi bungsuku sakit lagi. Diarrr. Dikabulkan oleh Allah guys. Gigi bungsuku sebelah kanan bawah sakit lagi. Aku memberanikan periksa.

Aku periksa di faskes pertama BPJSku yakni di Klinik Anugerah yang dekat rumah. Kenapa pilih klinik ini sebagai faskes pertama? Karena bukanya pagi hingga malam hari. Kalau di puskesmas hanya buka pagi hari saja. Yang kedua karena pasiennya tidak sebanyak di puskesmas. Bayangkan saja jam 10 dapat antrian 160an. Udah keburu pingsan nunggu antrean. 

Aku periksa gigi bungsuku di Klinik Anugerah tanggal 20 Oktober 2023. Dokternya memberikan resep amoxxcilin, ibuprofen, dan bufacryl. Kalau tidak salah ingat dokternya bilang,

"Besok tiga hari lagi kesini untuk cek kembali ya Mbak."

Nah saat aku ke ambil obat malah apotekernya bilang.

"Kalau udah nggak sakit nanti nggak usah kembali lagi kesini."

Lohhhh. Aku jadi bingung. Kemudian aku memutuskan untuk kembali lagi. Semoga aja dokternya sama yang kemarin jadi aku nggak perlu menjelaskan ulang.

Tanggal 23 Oktober 2023 aku kembali lagi ke Klinik Anugerah. Ternyata masih sama jadwal dokternya. Dan dokternya masih ingat kasus gigi bungsuku. Alhamdulillah. Aku lalu diberi rujukan. Disini aku udah mulai deg-degan.

Aku ditanya sama Mbak yang jaga administrasi. Mau ke RS mana. 

"Mana aja Mbak pilihannya?"

"Ada RSUD Bantul, PKU Gamping, PKU Yogya, bla bla bla," Aku tidak ingat apa saja rumah sakitnya. Saking banyak pilihannya.

"Boleh ke RSA UGM mbak?"

Ternyata boleh. Walaupun beda kota. Aku di Bantul dan RSA UGM di Sleman. Aku soalnya takut di RS PKU Gamping karena motong Jalan Wates yang horor maksimal itu. Padahal kalau kuliah tiap hari lewat Jalan Wates.

Selasa, tanggal 24 Oktober aku periksa ke RSA UGM di poli bedah. Poli bedah gaes. Sebenarnya aku udah pernah antre di poli bedah ini karena menemani adekku kontrol sehabis operasi tulang clavicula kanan yang patah.

Poli bedah mulut. Yak aku periksa disini. Aku diperiksa oleh drg. Rizqon.  Dokter Rizqon tanya kapan siapnya untuk operasi. Aku bilang secepatnya. Akhirnya kami sepakat tindakan yakni tanggal 27 Oktober 2023 di Hari Jumat.

Dokter Rizqon memberikan saran terkait operasi besok. Pokoknya harus tidur sebelum jam 10 malam. Tidak boleh saat haid. Tidak boleh saat batuk. Dan harus makan dulu sebelum operasi gigi bungsu. Aku kemudian disuruh rontgen dan hasilnya boleh dibawa pulang.

Usai diperiksa aku rontgen di lantai bawah. Btw aku disini periksa sendiri. Rontgen yang aku pakai adalah rontgen panoramic. Bener-bener baru pertama kali aku rontgen panoramic seumur hidup.

Aku langsung diberi hasilnya tanpa menunggu lama. Jederrrrr. Ada dua gigi bungsu rahang bawah yang posisinya tidur semua. Hmm sudah kuduga. Ku kira dulunya gigi bungsuku bakalan tumbuh sempurna. Ternyata setelah bertahun-tahun nggak sempurna-sempurna juga tumbuhnya alias tidur semua. Hadehhh.

Aku langsung pulang sambil membayangkan besok Jumat. Operasi gigi bungsuku yang pertama.

Operasi Gigi Bungsu Untuk Pertama Kalinya

Sekitar pukul sembilan pagi aku otw dari rumah. Aku benar-benar sendiri datang ke RSA UGM. Pertama kali aku mikirnya kalau sekalian dicabut dua gigi bungsu dengan operasi bius total. Ternyata tidak. 

Aku cabut satu-satu gigi bungsunya dengan bius lokal. Karena banyak yang mengantri di poli bedah mulut, aku baru ditangani pukul tiga sore. Sebelum tindakan aku makan siang ayam geprek di dekat pintu masuk RSA UGM.

"Mbak makan dulu aja, nanti habis operasi nggak bisa makan lho." Kata perawat poli.

Aku hanya tersenyum saja. Hmm sesakit apa ya setelah operasi gigi bungsu.

Pukul tiga sore aku masuk poli bedah. Satu dokter gigi dengan dua perawat di dalam ruangan. Pertama-tama aku mencopot masker dan kacamata dahulu lalu duduk di kursi khusus tindakan. 

Kemudian perawat menyiapkan peralatannya. Yakni membenarkan posisi lampu. Dokter Rizqon memasang handscoon. Aku tetiba deg-degan. Ini baru pertama kalinya aku operasi dalam seumur hidup.

Dokter Rizqon mengeluarkan suntikan. Aku mangap dan jussss. Gusiku disuntik berkali-kali tusukan dengan arah dan tempat yang berbeda. Kemudian rasa dingin menjalar di gusi bawah sebelah kanan. 

Kursi tindakan dinaikkan. Aku mengisi dan menandatangani berkas-berkas tindakan. Dokter Rizqon tanya,

"Udah tebal belum bibirnya?"

"Udah dok."

Kemudian prosesi operasi pencabutan gigi bungsu dimulai. Aku tidak merasakan sayatan di gusi karena udah mati rasa gusinya.

Setelahnya gigiku seperti di bor. Nguinggggggg. Nguiiiiingggg. Begitulah rasanya. Agak berisik di telinga. Aku nggak tahu nama alatnya. Tubuhku jadi membatu karena cemas. 

"Rileks aja, rilekss."

Ya ampun dok gimana mau rileks. Agak sakit rasanya di bor walaupun dibius. Rasa sakit yang terasa adalah 5/10. Dokter Rizqon mengganti ukuran bor giginya.

Ini kok ngga selesai-selesai yak. Mana mangap terus hihi. Dokter Rizqon mengambil alat untuk mengambil gigi bungsuku yang dibelah menjadi dua oleh bor. Nggak bisa-bisa. Kemudian gigiku di bor lagi. Diambil pakai alat lagi dan yeay. Kecabut setengah. Ambil lagi setengahnya dan selesai.

"Katanya Dokter Didit ini mah ngga boleh lebih dari setengah jam. Biar nggak bengkak."

Waduhh. Aku yang dengar ketar-ketir. Operasi ini berjalan kurang dari 30 menit cuman sekitar 20 menit saja. Kemudian jahit-menjahit gusi pun dilakukan dengan benang berwarna ungu. Tentu saja aku tidak merasakan sakit karena masih dalam kondisi terbius gusinya hingga setengah bibir yang rasanya tebal.

Usai jahit gusi selesai. Aku disuruh untuk menggigit kassa selama satu jam.

"Mau dibawa pulang nggak giginya?"

"Boleh dok."

Aku duduk di kursi sebelah. Dokter Rizqon memberikan nasihat.

"Nggak boleh minum panas ya habis ini. Ngga boleh disikat selama satu hari. Pokoknya habis dapat obat nanti langsung diminum ya. Jangan meludah-ludah. Pokoknya ditelan aja darahnya."

"Makasih ya dok."

Aku kemudian ke perawat poli memberikan berkas. Disini perawat poli juga mewanti-wanti kembali seperti Dokter Rizqan.

Aku diberi berkas oleh perawat lalu ke farmasi rawat jalan. Tanpa menunggu lama aku mendapat obat yakni Asam traneksamat untuk menghentikan pendarahan, Asam mefenamat dan parasetamol sebagai anti nyeri. 

Rasa Sakit Usai Operasi Gigi Bungsu

Ternyata nggak sakit-sakit amat tuh usai operasi gigi bungsu dan operasi gigi bungsu, ucapku dalam hati sebelum biusnya hilang. Jam enam sore biusnya mulai hilang. Gusiku rasanya cenat-cenut. Huaahhhh. Bener-bener nggak mood untuk ngomong. Untuk membuka mulut saja sakit. Mulut hanya bisa terbuka sekitar dua jari saja.

Hal tersebut berlangsung sekitar empat hari saja. Rasa sakit yang terasa adalah 9/10. Rasa sakit kemudian berkurang hingga hari ke sepuluh. Setelah itu, gusiku tidak terasa sakit sama sekali.

Seminggu kemudian aku angkat jahitan. Ya Allah rasanya gusiku kek ketarik benang huahuaa. Padahal gusiku masih nyeri. Rasa sakit yang terasa adalah 5/10.

Operasi Cabut Gigi Bungsu Untuk yang Kedua Kalinya

Saat angkat jahitan pada tanggal 03 November aku dan Dokter Anis menjadwalkan operasi gigi bungsu yang kedua atau yang rahang bawah sebelah kiri. Aku tanya karena gusiku masih sakit.

"Dok, kalau sebulan kemudian masih sakit nggak ya?"

"Udah nggak sakit Mbak."

"Kalau jahitannya menutup sekitar berapa lama ya Dok?"

"Sekitar 3 atau 4 bulan."

"Emmm kalau sebulan lagi gimana ya Dok cabut gigi bungsunya. Masih sakit soalnya."

"Tanggal 01 Desember ya?" Tanya perawatnya.

Aku bingung dan ragu-ragu. Akhirnya aku menjawab iya."

Hari yang terjadwalkan tiba. Usai sampai rumah sakit sekitar jam setengah sembilan dan ditangani jam satu siang. Tibalah operasi tiba.

Aku dibius dan menandatangani persetujuan tindakan. Gusiku mulai disayat dan dibor kembali. Ternyata sakit sekaliiii. Aku disuntik kembali. Dibius lokal. Di bor lagi. Syaraf gigiku berasa diobok-obok. Suntik bius kembali. Bor kembali. Sampai berkali-kali. Entah berapa puluh kali gusiku ditusuk pakai suntik. 

Aku menggenggam tanganku erat-erat. Selama kurang lebih dua puluh menit akhirnya selesai. Kedua tanganku gemetaran saking sakitnya selama kurang lebih selama 20 menit juga. Rasa sakit yang terasa 1000/10. Aku tidak mau operasi gigi bungsu lagi pokoknya huahua.


Bantul, 17 Januari 2024

20:47 WIB


Komentar

  1. Waduuh rasa sakitnya operasi gigi bungsu yang kedua luar biasa ya mbak. Aku turut prihatin ya. Tapi udah berlalu dan nggak terasa sakit lagi kan mbak? Aku aja mau cabut akar gigi maju mundur, karena takut nyerinya. Sehat-sehat ya mbak.

    BalasHapus
  2. Waduh kak, bacanya aja ngeri-ngeri syedep. Tapi karena baca tulisan ini, aku juga jadi belajar dari pengalaman orang lain. Terima kasih sudah menceritakan kepada aku yang belum punya pengalaman tentang gigi bungsu.

    BalasHapus
  3. Ya ampun mbaaa aku yang mau cabut gigi berlubang aja maju mundur cantik, ini malah operasi yang kedua dan aku bacanya merinding sampai ngerasa di obok-obok gitu ya mbaa. Kaya gitu kalau operasi ya mbak prosesnya lumayan lama 20 menit. Kalau aku pasti udah overthingking selama 20 menit itu, huhu. Udah panik duluan lihat peralatannya, mana di bor nya juga berkali-kali.

    BalasHapus
  4. Waduhh aku juga lagi perawatan gigi ini mba karena ada gigi yang berlubang. Semoga aja ga sampai harus operasi deh.

    BalasHapus
  5. wah drama gigi bungsu ini banyak juga ya yang mengalaminya, gigiku yang atas pecah, pas hamil pula, duh sakitnya sampai ubun-ubun rasanya, konsul ke dokter gigi katanya bisa dioperasi tanpa membahayakan janin, dan akhirnya operasi la, alhamdulillah sakitnya sudah berkurang jauh

    BalasHapus
  6. Klo urusan sakit gigi emang ga main2, ngeri2 sedap. Betewe, kuat amat mba nahan sakit gigi selama itu.

    BalasHapus
  7. Gigi bungsu itu sakit banget, emang harus dioperasi sih, aku pernah ngalamin dua kali operasi gigi bungsu.

    BalasHapus
  8. perjuangan banget ya mbak. Dan ini kedua kalinya, aku bacanya jadi linu ya. hhhe. Ngebayangin sakitnya 9/10 kan aduhai. Untung gratis ya mbak

    BalasHapus
  9. aku bacanya ngeri-ngeri sedap.. memang kalo ada gigi bungsu itu agak butuh perjuangan yakan mbaa.. tapi Alhamdulillah udah clear ya mbaa..

    BalasHapus
  10. Saya baca saja ikut ngeri lho. Benar kok pernah cabut gigi dan dengar suara bor itu rasanya ngilu sekali lho. Alhamdulillah sudah beres urusan dengan gigi bungsu nya ya mbak.

    BalasHapus

Posting Komentar