Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2018

Shabrin dan Guyuran Air

Azan maghrib sudah berlalu satu menit yang lalu. Shabrin mengambil air wudu. Sementara itu, aku berada di sampingnya. Aku tersenyum geli dengan kelakuannya. Shabrin belum sepenuhnya tahu urutan wudu yang benar. “Brin, gimana tepuk wudunya? Mbak Tya pengen dengar” Shabrin melihatku. “Tepuk wudu. Basuh tangan lalu kumur-kumur tiga kali….” Nah, kalau pakai tepuk wudu jadi lebih mendekati benar urutannya. Ketika kita sudah berada di ruang tengah Shabrin berkata, “Mbak Tya tunggu aku dulu” “Lah kenapa” “Aku mau guyur badan dulu. Sebentar kok guyur badannya” Aku berpikir keras. “Guyur badan? Kamu belum mandi eeee” Jawabku dengan sedikit menyelidik. Shabrin langsung kabur ke tempat wudu semula. Aku mengikutinya. “Wah wah wah ternyata belum mandi kamu Brin” Shabrin nyengir sambil mengguyur badannya dengan air. “He he he he he” Bantul, 25 Oktober 2018 08:

Setahun

Sudah setahun lebih aku memendamnya. Sesak tak terelakkan lagi. Bagiku, setahun ini dipenuhi hari penuh kesesakkan. Tak tertahankan lagi ketika aku sendirian memendamnya. Memenjara sebuah cerita dalam hati. Kadang, aku membenamkan wajah dalam bantal. Mengunci pintu sehingga kedap suara. Sesenggukan berderai air mata sendirian. Rasanya sungguh menyakitkan. Kemudian aku ketikkan sebuah pesan kepada seseorang. Terkirim. Sebuah pesan whatsapp bak cerpen ratusan mendekati ribuan kata centang dua lalu membiru. Ia mengetik. Aku berdegup melihatnya. Kuhentikan menulis pembahasan laporan praktikum mata kuliah pengetahuan bahan.   Malam itu pukul sepukul. Sebuah pesan masuk. “Aku sebenarnya sudah tahu sejak lama. Aku sebenarnya pura-pura memejamkan mata seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Biasa saja. Sudah banyak yang cerita sama aku. Aku hanya diam saja sengaja menunggu cerita dari kamu sendiri. Karena problem seperti itu sedikit banyak ada dan akupun nggak hanya menemui