Langsung ke konten utama

Postingan

Jujur Walaupun Pahit

Kemarin aku banyak belajar. Belajar menyampaikan sanggahan di rapat pemuda. Walaupun mungkin belum tersampaikan dengan baik setidaknya aku lebih lega karena berani menyuarakan isi kepala maupun isi hati. Gimana nggak nyanggah coba. Sebagai bendahara yang tau kondisi morat-maritnya harga pangan di Indonesia dengan latar belakang pendidikan Teknologi Pangan membuat tanganku meremas kertas-kertas berulang kali. Pengen konsumsi murah tapi wah. Aku lebih memilih mahal karena rego nggowo rupo. Pengen rasanya melempar lemari asam. Malam itu, sepertinya aku berhak menyandang predikat tokoh tergalak dalam rapat.  Belajar menolak ajakan. Tanpa harus menjelaskan. Toh tidak semua orang mampu memahami kondisi dan pilihan kita kan? Belajar menyuarakan hati. Kali ini aku lebih memilih sekte jujur walaupun pahit dibanding manis walau berbalut kepura-puraan. Ini masalah kecondongan. Walaupun aku juga kadang seringnya memilih manis walau pura-pura. Belajar menyampaikan apa yang aku rasakan. Tentu denga

Misteri Bau Menyan di Rumahku

 Pada suatu sore saat di rumah Luri bilang padaku. "Bau menyan enggak?" "Enggak. Emang bau?" Jawabku sambil mengetes hidungku. "Bau yo. Eh sekarang ilang baunya." Selang beberapa hari kemudian. Sore berikutnya aku pulang ke rumah. Aku memasukkan motor ke dalam rumah. Aku mau menutup pintu yang kebuka karena aku memasukkan motor. Tiba-tiba aku membau sesuatu yang wangi namun wanginya sangat tipis di hidung. Menyan! Berkali-kali Luri bilang kepadaku. Namun aku terus menyangkalnya karena aku tidak membau menyan sedikitpun. Kini aku merasakan bau tersebut. Bau menyan yang sangat tipis. Terbawa angin. Selang beberapa hari. "Bau menyan nggak?" Aku tanya Luri. "Iyaa bauuu." Jawab Luri. "Emang ini Malam Jumat Kliwon?" "Heh iyyaaa beneerr ini." Sering sekali kalau di jalan pas malam Jumat Kliwon semerbak bau wangi menyan mesti tercium. Kejadian bau menyan terus berulang kali. Ketika Luri membau bau menyan seringnya aku tidak

Tuyul di Kampungku yang Membuat Gempar Warga Satu RT

     Saat scroll timeline di medsos aku menemukan sebuah cerita tentang tuyul. Aku jadi keingat kejadian kurang lebih setahun yang lalu. Kejadian ini terjadi di kampungku. Membuat gempar warga satu kampung alias satu RT. Kejadian berurutan kalau disambung menjadi sebuah pertanyaan. Tuyul siapa yang berkeliaran di kampungku? Kejadian pertama.     Adekku mendapat cerita setelah berbincang-bincang dengan anak TPA. Pada tahun 2021, masjid kami memang menyemarakkan Ramadhan namun hanya kegiatan TPA untuk anak-anak saja. Porsi buka puasa hanya 150-200an saja. Anak-anak TPA tiap sore jam empat hingga adzan Maghrib berkumandang. Semua jamaah sholat Maghrib dan anak-anak TPA mendapat jatah makan untuk buka puasa. "Mbak, kemarin aku lihat tuyul loh. Jam dua belas malem." Jabar yang sedang duduk di bangku kelas 1SD mulai bercerita. "Dimana kamu lihatnya?" Tanya Luri. "Di rumahku Mbak. Aku mau ngambil sepeda eh malah lihat tuyul." "Bukan tuyul mungkin..." Lu

ATM

 Sebuah chat WA masuk hapeku. Lalu kubuka. "Jadi ambil uang nggak?" Pesan dari Luri. Lalu aku balas. "Nggak jadi. ATMnya kubawa bersama dompet." Kemudian aku teringat kalau di jalan mau ngeprint sebuah dokumen. Ku cari-cari dompetku di dalam tas. Nihil. Aku agak panik sembari menngingat-ingat kejadian tadi malam. Arghhhhhh. Dompetku masih ada di tas lain karena semalam aku pergi. Gubrakkkkkkkk. Bantul, 01 Juli 2022 07:26 WIB

Isyarat Mimpi

Kejadian satu. Suatu malam aku bermimpi. Ada taburan bunga mawar merah di jalanan depan rumahku. Ketika terbangun aku kaget. Tidak lama kemudian, tetanggaku meninggal dunia. Saat mau dimakamkan jenazahnya lewat jalanan depan rumah. Akhirnya, bunga mawar merahpun berserakan di jalanan depan rumah. Aku tertegun begitu menyadarinya. Kejadian dua. Ketika seseorang telah lewat jalan depan rumah aku bertanya pada Bapakku yang duduk di ruang tamu sepertiku.  "Orang yang baru saja lewat depan rumah memiliki watak yang keras ya Pak?" Bapak kemudian menjawab singkat. Iya. Hah benerannn? Kejadian ketiga. Aku baru menunggu budhe yang baru mandi. Rencananya kami akan pergi bersama. Aku menunggu budhe sambil jalan-jalan di sawah dekat rumah. Tetiba seorang lelaki paruh baya menghampiriku. Menanyai kegiatanku. Saat itu aku menjawab sedang sibuk kuliah. Ya biasalah pertanyaan basa-basi. Sesampainya di rumah aku bertanya lagi dengan Bapak. "Mas itu mendalami ilmu supranatural ya Pak?&quo

Target Minum di Bulan Puasa

                    Hal yang paling sering terluput olehku adalah minum air putih. Target delapan gelas air putih tiap hari sering meleset. Sering sekali terlupa. Apalagi kalau tubuh ini tidak memiliki alarm yang mengingatkan adanya haus. Mungkin jumlah air putih yang dikonsumsi semakin sedikit saja. Eh yang benar itu air putih apa air bening sih? Kalau susu kan warnanya putih. Kalau air mineral warnanya bening, xixi. Pokoknya tidak terlalu penting air putih apa air bening. Kita buat kesepakatan saja yak. Kita menyebutnya air putih, bukan air bening. Ok? Setuju yaa? Siip. Hahhaa. Telah diputuskan kesepakatan sepihak bahwa kita menyebutnya air putih.                 Di hari-hari biasa minum air putih sering terlewat. Kalaupun tidak terlewat pastinya selalu bolak-balik kamar mandi terus. Pernah suatu ketika aku minum dua air gelas putih sehabis bangun tidur. Kebetulan ada kegiatan pagi hari jam setengah enam. Nah, aku bolak-balik ke kamar mandi dong. Udah dua kali. Satu kali di rum

Memaknai Puasa

          Kata apa yang terlintas pertama kali sewaktu mendengar kata puasa? Tidak cukup terlintas hanya satu dua kata saja. Banyak sekali kata yang terlintas. Begitu mendengar kata puasa terlintas kata seperti haus, lapar, buka puasa di masjid, buka bersama teman-teman, kolak, petasan, sholat tarawih di masjid, dan masih banyak yang lainnya. Hawa dan aroma di Bulan Puasapun berbeda dibanding dnegan bulan-bulan lainnya. Pagi harinya sangat tenang. Malam harinya juga tenang. Atmosfer yang tidak ditemukan di bulan manapun.           Berbicara soal makna puasa, makna puasa ternyata berubah sewaktu tambahnya usia. Jika saat kecil dahulu belum bahkan tidak bisa memaknai puasa maka berbeda halnya dengan usia sekarang. Saat kecil dahulu memaknai puasa sebatas puasa adalah perintah Allah Subhanahu wa ta’ala yang tertulis dalam quran. Menahan segala sesuatu yang membatalkan hingga tiba waktunya puasa. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas