Pak sopir melewatkan setelnya melewati jalan tikus. Tak seutuhnya melewati jalan raya. Tentu saja kemacetan adalah alasan yang dihindarinya. Kami menikmati pemandangan di jalan walaupun kondisi berdesakkan. Ini memang sensasi tersendiri. Aku sadar, Pulau Bali memang indah. Suasana Hindu dan adatnya sangat terasa begitu menginjakkan kaki di Pulau Bali. Kalaupun liburan diperpanjang aku pun sangat setuju. Tak sampai setengah jam kami tiba di Pantai Kuta. Tanpa berlama-lama di dalam setel kami langsung menghambur menuju Pantai Kuta. Pantai Kuta, dengan pemandangan yang memukau, deburan ombak yang lembut, birunya air, juga landainya pantai. Tak ketinggalan pesona pasir putih yang menambah lebih eksotis. Tak heran bila aku sangat menyukai pantai. Tiba-tiba aku teringat pesan ayahku. Ayahku selalu melarangku untuk bermain air di pantai. Karena ombak pantai selatan kotaku terkenal berbahaya. Untuk saat ini, aku bebas bermain air laut. Namun, kendalanya satu yaitu baju ganti. Cuku...