Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

Rapat Kirab Budaya Bersama Jaya Waskita (2)

Dana kas RT yang dikeluarkan untuk membeli pralon dan bendera ternyata sudah dirancang oleh beliau. Pembelian barang tersebut tidak hanya untuk foya-foya belaka, namun tahun kedepannya saat tujuh belasan diharapkan setiap rumah memasang bendera merah putih di depan rumahnya. Sistematis dan berorientasi kedepan. Usulan tersebut disetujui forum pemuda. Untuk kostumnya, memakai kaos seragam yang baru dibuat untuk saat ini. Pelunasan kaos aku yang megang. Mas Ikhsan dan Mas Bayu menggarap design dan administrasi kaos. Bersepatu, memakai bawahan hitam, berkaos seragam, dan tak lupa setangan leher pramuka yang berbentuk segitiga. Sederhana dan tidak memakan banyak dana. Jujur, pak RT menyampaikan saat rapat tujuh belasan bahwa RT tidak bisa membantu banyak untuk masalah dana. Tenda yang sebelumnya dibeli sudah menghabiskan banyak dana. Pada DP pelunasan kaos, yang memiliki tenggang waktu sampai tanggal 17 September banyak yang membayar di saat-saat terakhir. Sebal juga sih, hehe. Nah, unt

Rapat Kirab Budaya Bersama Jaya Waskita (1)

Hujan semakin deras sejak pukul 19.00 WIB. Undangan rapat telah di umumkan sehari yang lalu di grup WA kepemudaan kampung kami, Jaya Waskita. Pukul delapan lebih, anggota grup mulai memenuhi notif hape dengan kiriman gambar bidikan kamera hape masing-masing. Sementara itu, aku masih menatap layar computer di luar kampung. Aku izin telat ya, aku baru diluar rumah ketikku dalam grup. Pukul setengah sembilan malam aku meluncur dengan kuda besi ayahku. Menerobos hujan dengan jas hujan batman lengan panjang. Begitu sampai rumah, kucopot jas hujan dan langsung kuambil buku kas dan dompet. Setibanya di rumah Pak RT, lokasi rapat yang digunakan pada malam itu ternyata belum dimulai. Aku jadi merasa bersalah menghukum mereka dengan keterlambatanku. Aku langsung disodori list daftar pemuda pemudi yang membayar kaos pada malam itu. Alhamdulillah, aku diberi amanah untuk menjadi bendahara I Jaya Waskita. Debt collector atau bank plecit kerap tersemat dalam diriku kerana aku bendahara. Sebenar

Shabrin

Edisi masih Shabrin lagi. “Mbak Tya, lebih cepatlah naik motornya” kata Shabrin yang ku bonceng di depan jok motor. “Nanti kalau Mbak Tya ngebut, kamu takut” balasku. “Enggaklah” ucap Shabrin. Siang itu aku menjemput Shabrin di TK nya. Shabrin membonceng di depan. Padahal biasanya di belakangku. Sementara itu, neneknya membonceng di belakangku. Shabrin mengenakan jaket merah lucunya untuk mengurangi paparan angin yang mengenai tubuhnya. Demi keamanan, aku hanya menjalankan motor di sekitar kecepatan 30km/saja. Di sepanjang jalan, Shabrin menyanyi, “Ila liqa, ila liqa sampai berjumpa lagi” “Ila liqa, ila liqa sampai berjumpa lagi” “Kita berjumpa karena Allah” “Kita berpisah karena Allah” “Ila liqa, ila liqa sampai berjumpa lagi” Kupikir, mood Shabrin baru bagus karena mau nyanyi. Jarang-jarang Shabrin menyanyi di hadapanku. Emmm tapi, kalau tidak mood, pertanyaanku tak bakal digubrisnya. ** Hari itu Sabtu malam pertengahan bulan Agustus. Setelah pulang d

Atina dan Arina

Atina Khoiro Amalina dan Arina Khoiro Amalina. Mereka berdua adalah keponakan   paling unyu   bagiku. Dengan terlahirnya si kembar, maka utuhlah tiga kembar dari keluarga kakek. Generasi pertama (alm) kakek, generasi kedua yakni ibu dan saudaranya, kemudian generasi ketiga adalah kami , cucunya. Pakdhe, menyumbangkan kembar laki-laki. Generasi ketiga menyumbangkan kembar laki-laki dan perempuan. Terakhir, generasi keempat, si Arina dan Atina menyumbangkan kembar perempuan perempuan. Arina memiliki badan yang lebih gendut di banding Atina. Tingkah polah Arina juga lebih aktif di banding Atina. Kalau menggendong Arina, siapkan ketahanan tangan karena Arina akan menggoyangkan seluruh badannya seperti ingin terlepas dari gendongan. Nah, kalau Atina sebaliknya. Atina lebih kurus dibanding Arina. Pembawaannya pendiam dan anteng . Kalau di gendongpun diam saja wkwk. Pertama kali aku melihat Arina dan Atina, mereka ternyata kayak orang Jepang. Putih dan ada sipit-sipitnya gitu. Mere

Bintang Tamu

Hari Rabu. Cuma satu matkul yakni Kimia Anorganik. Dosennya berhalangan hadir. Sudah diberitau sejak hari Senin kemarin. Cihuy. Akhirnya bisa istirahat di rumah euy. Setelah Hari Senin aku pulang jam delapan malam, sampai rumah setengah sembilan malam berkegiatan dari pagi. Atau hari Selasa, pulang jam enam sore dari pagi kemudian ada acara di Guwasari, Pajangan, Bantul sampai pukul sebelas malam, itupun pulang duluan sebelum acara selesai. Akhirnya, aku bisa istirahat di rumah sebentar saja #alay. Ngomong-ngomong soal kuliah, aku jadi tau rasanya nunggu dosen di depan ruangan saat akan memberikan matkul. Ada yang ontime ada yang enggak sih, wkwk. Jadi tau juga rasanya nunggu matkul selanjutnya saat jarak antar matkul itu sekian jam. Huh, enaknya ngapain ya? Pulang nanggung. Bensin juga boros. Kalau di kampus kok lama banget. Tempat tidur mana tempat tidur? :D Nah, acara yang berada di Guwasari tadi malam itu adalah Sarasehan Karang Taruna se-DIY. Pesertanya banyak. Karang Tarun

Aku dan Gempa 2006 Bantul

Hai teman-teman semua. Minggu ini ODOP memberikan tantangan kepada membernya. Nah, tulisan ini kupersembahkan untuk tugas tersebut :D Oke, langsung saja. Namaku Tya, ada juga yang memanggilku dengan sebutan Set, karena nama depanku adalah Setya. Aku anak nomor kedua dari tiga bersaudara. Yang anak tengah mana suaranya??? Aku punya seorang kakak laki-laki dan seorang adik perempuan. Nah, aku dan adikku ini sering dipanggil Upin Ipin. Kenapa? Katanya sih, wajah kami mirip. Jujur, kami berdua nggak terima haha. Oke, sebut saja aku dan adikku dengan sebutan Upin Ipin. Aku Upinnya dan adikku si Ipin. Walaupun kami selisih tiga tahun, tinggi kita hampir sama. Jiahhh, kali ini aku yang sangat enggak terima, secara aku kakaknya :D Aku berasal dari Bantul. Salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta tercinta. Walaupun dari Bantul, akses dari kampungku menuju kota tidaklah lama karena wilayah kecamatan yang aku tempati berbatasan langsung dengan Kota Yogyakarta. Teman-teman ODOP ta

SILENT READER

Aku mengenal ODOP (One Day One Posting) dari postingan seseorang (aku lupa namanya :D) di facebook. Nah, ku ikuti link blognya. Kubaca-baca blognya hingga ku temukan satu tulisan yang berisi link blog teman-teman penulis ODOP lainnya. Ada Ibu Julia Rismaya, Kak Ken Adipatih, Bang Syaiha, dan Mbak Heni. Kira-kira mereka masuk ODOP batch berapa ya? Ibu Julia Rismaya adalah orang yang memang sibuk (aku tahu setelah baca postingan temen ODOP)   namun tetap konsisten menulis. Ada tulisan Kak Ken Adipatih yang berisi hal menyegarkan dan sulit di tebak jalan ceritanya. Ada saja ide-ide lucu yang membuatku tak lelah beranjak di postingannya Kak Ken. Lumayan membuat pikiran tidak tegang menghadapi Ujian Nasional sewaktu SMK. Kalau postingan Bang Syaiha, jujur aku lupa isinya apa :D. Nah, Mbak Heni. Aku malah kagum sama suara nya wkwk. Mbak Heni ini alumnus pendidikan Bahasa Jawa Universitas Negeri di Yogyakarta. Di postingannya Mbak Heni aku seolah diajak untuk merasakan menjadi guru se