Langsung ke konten utama

Postingan

Pulau Bali #1

Pagi ini hari pertama aku dan teman-temanku berlibur di Pulau Bali. Setelah mandi, makan, dan mengunjungi Tanah Lot, bus kembali bergerak mengelilingi Pulau Bali. Sementara itu, guide sedang menjelaskan apa saja yang ada di Pulau Bali. “Masih semangat?” “Masih” Kami menjawab dengan nada tak semangat. Kontras memang. “Yak, Bli sekarang akan bercerita tentang Pulau Bali” Semua terdiam. Aku melihat ke belakang kursiku. Tampak, kebanyakan temanku lelah. Wajah-wajah kelelahan tampak terlihat. Yang lebih parahnya lagi, temanku masih berselimutan dengan mata terpejam. Padahal matahari mulai meninggi. Sebenarnya, aku pun ingin tidur. Perjalanan dari Jogja hingga Bali memang melelahkan. Karena sudah jauh-jauh dari Jogja, maka aku pun tak ingin melewatkan tiap sudut pemandangan Pulau Bali. “Bali memang terkenal dengan puranya. Bali dijuluki pulau seribu pura” Aku mencatat hal-hal penting yang Bli katakan. Ku tulis semua di bukuku yang bersampul berwarna pink. Bukan karena aku su...

Ia

Aku hanya terdiam beberapa detik. Selebihnya aku malas berbicara. Sakit hati menyerangku perlahan. Bukan karena tindakan fisik, namun karena ucapan. Aku benar-benar tak menduga ucapannya. “Jadi aku hanya dipermainkan semata?” Kemudian ia diam. Diam karena tak mampu mengucap beberapa alasan. Beberapa menit kami duduk bersama tapi tak bersuara. Aku malas sekali menatap matanya. Tiap kedipannya adalah kebohongan. Lalu aku beranjak meninggalkannya sendirian. Beberapa langkah aku pergi, ia memanggil namaku. Kemudian aku lari, tak mempedulikannya ia lagi.

Hukuman

Sangga kami sampai di sebuah jembatan di Sleman. Tak ada orang sama sekali. Berarti, kami sangga pertama yang tiba di lokasi. Padahal, kami berangkat pada urutan ke empat. Tiap urutan diberi jeda sekitar lima menit agar sangga selanjutnya boleh memulai perjalanan. Cuaca yang terik membuat perjalanan lambat. Namun, dengan semangat, cuaca terikpun tak akan jadi halangan. Setibanya di lokasi, gemericik air sungai menyambut kami. Tebing yang tinggi, pepohonan yang hijau, dan tenangnya aliran sungai membuat suasana semakin damai. Sungai ini memang jernih, tampak ikan sungai berenang ketepian lalu berenang entah kemana. Rasa-rasanya aku ingin menceburkan diri ke sungai. Bukan bunuh diri, bukan. Tapi untuk melepas penat juga lelah. Perjalanan belum usai. Masih ada tugas yang belum terselesaikan. Setelah sampai, kami disuruh membuat bivak dan memasak untuk makan siang. Patok, tali, dan tongkat dipersiapkan. Tak lupa peniti dan jas hujan model batman juga dikeluarkan. Tak sampai sepulu...

Chairil Anwar

Chairil Anwar , puisinya memang banyak dikagumi. Termasuk aku. Aku pun sampai hafal puisi karangan beliau yang berjudul “Diponegoro” dan juga “Doa”. Diponegoro Di masa pembangunan ini tuan hidup kembali Dan bara kagum menjadi api Di depan sekali tuan menanti Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali. Pedang di kanan, keris di kiri Berselempang semangat yang tak bisa mati. MAJU Ini barisan tak bergenderang-berpalu Kepercayaan tanda menyerbu. Sekali berarti Sudah itu mati. MAJU Bagimu Negeri Menyediakan api. Punah di atas menghamba Binasa di atas ditindas Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai Jika hidup harus merasai Maju Serbu Serang Terjang  DOA Tuhanku dalam termangu aku masih menyebut namaMu biar susah sungguh mengingat Kau penuh seluruh cahayaMu panas suci tinggal kerdip lilin di kelam sunyi Tuhanku aku hilang bentuk remuk Tuhanku aku mengembara di negeri asing Tuhanku di pintuMu aku mengetuk aku tidak bisa berpaling

Masak dan Parafin

Ujian Kenaikan Kelas praktik maupun teori sudah selesai beberapa hari yang lalu. Sebentar lagi tempelan papan pengumuman akan penuh. Banyak siswa yang berkerumun disitu. Tatapan kecewa dan senang pasti ada. Apalagi kalau bukan tempelan daftar nama siswa yang remidi. Entah jadwal remidi ataupun tugas yang belum diselesaikan. Aku malas untuk berangkat sekolah. Informasi remidi kutanyakan pada temanku yang satu ini. Agung. Ia rajin berangkat meskipun tak ada pelajaran atau remidi. Entah, apa motivasinya itu. Untuk saat ini aku tak tahu. Mungkin, lain kali bisa kutanyakan. Emmm, tapi untuk apa? Oh iya, untuk menuntaskan rasa kepoku. Iya, aku memang kepo. Sejauh ini, ada 6 pelajaran yang sudah diumumkan daftar remidinya. Iya, baru sepertiga dari keseluruhan mata pelajaran. Masa-masa seperti ini seperti libur belum resmi bagiku. Aku hanya berangkat kalau ada keperluan. Selebihnya aku di rumah. Ini masalahnya, aku mempunyai banyak waktu luang di rumah. Ternyata bosan menyerangku pula...