Langsung ke konten utama

Postingan

Masker

Aku melongo ketika jam dinding menunjukkan pukul 13.40. “Berabe nih bisa telat. Belum ke minimarket belum pakai sarung tangan” batinku. Setelah motor kupanasi mesinnya, langsung tancap gas menuju minimarket dekat rumah. Dalam keadaan pakai helm dan masker berwarna hitam bermotif aku melenggang menuju rak roti. Yes dapat. Aku menuju ke kasir. Bayar dan masukkan roti ke tas. Aku berbalik arah dari kasir. Aku kaget. Shabrin, keponakanku, baru aja memasuki minimarket bersama ayahnya. Sudah beberapa hari ini aku belum ketemu dengan Shabrin, yang selalu kuusili tiap ketemu, haha. Kupanggil namanya. Shabrin diam aja. Menatapku terdiam. Sementara ayahnya ketawa melihat tingkah aneh Shabrin. “Siapa itu Brin” Tanya ayahnya. Shabrin terdiam sambil mengemut jempol tangan kirinya. Ketika aku menaiki motor sambil memakai sarung tangan, Shabrin yang tadi membuntuti ayahnya langsung mencariku. Mencariku di parkiran. Terdiam menatapku dari pintu minimarket dengan muka penasarannya. Waj...

Resonansi

Sore ini, kota Yogyakarta hujan deres banget. Pukul empat sore tadi serasa waktu maghrib. Lalu, aku teringat kejadian beberapa hari yang lalu.           Malam itu, ada buku ‘pulang’nya Tere Liye tergeletak di kasur. Iseng-iseng aku membacanya sampai halaman delapan puluhan. Bressss, hujan deras tiba-tiba membasahi bumi. Sementara itu, aku masih enjoy membaca ‘pulang’ sambil tiduran. Anehnya, aku merasa saat itu aku pernah merasakan hal yang sudah aku pernah rasakan sebelumnya. Tapi, itu apa? Aku bingung mendefinisikannya. Pokoknya ada hal aneh yang aku rasakan saat aku membaca sambil tiduran dan mendengar suara rintik hujan.  Yap, hujan menghipnotisku malam ini. Aku dibawa ke suasana saat aku masih mengenakan seragam putih biru, tiduran sambil membaca. Hujan kali itu mengingatkanku masa lalu. Saat aku benar-benar tergila-gila dengan membaca buku.           Aku tersadar. Ter...

Kangen #1

Kangen, semacam kata yang tak terdefinisi. Bener-bener kangen. Kangen suasana bulan Ramadhan. Bukan karena bertepatan dengan hari kelahiranku loh ya. Bukannn. Kangen suara bapak-bapak takmir mengingatkan saudara seiman dengan teriakan sahur sahurr sahurrr yang buat tidurku semakin nyenyak   sedari jam tiga udah stay di depan mic masjid. Lalu, tepat jam setengah empat pagi alarm hapeku mengguncang kamar. Namun, dengan susah payah menggeliat untuk mematikan alarm lalu kembali peluk guling. Lihatlah, beberapa menit kemudian adikku mengguncang-guncangkan tubuhku dengan lemah lembut kasar tak berperasaan. Aku pura-pura tidur lelap, sehingga tak menggubris adikku. Beberapa saat kemudian, suara kelentingan antara sendok dan piring mulai terdengar. Sejurus kemudian aku membuka mata. Mengintip jam dinding. Hoalahh, masih setengah jam lagi. Kembali tidur. Dan melihat jam dinding lagi. Alamakkk, tinggal sepuluh menit lagi. Dengan siaga tanggap bencana, aku langsung meloncat dari kasu...

Lampu

Hari Jumat  beberapa hari yang lalu. Dari tempat wudhu putri aku menengok ke arah kamar mandi yang berada di dekat lokasi tempat wudhu putra. “Lah? Ngapain mencuri pandang gitu?” Tanya seseorang kepadaku “Mas,ada orang nggak di kamar mandi?” “Kayaknya nggak ada deh. Eh ada” “Apaan? Ra jelas ki ” Aku langsung menuju ke kamar mandi. Ku pegang gagang pintu dan ceklek nggak ada orang di kamar mandi. Masuk, lalu kunci dari dalam. Tiba-tiba, “Klapppp” Lampu kamar mandi padam seketika. Sementara, adzan isya baru aja usai. “Aaaaaaaaaaa” teriakku spontan. Beberapa detik kemudian. Lampu masih tetap saja mati. “Nyebai” batinku di kamar mandi sambil bersungut-sungut. Siapa ini yang matiin lampu kamar mandi dari luar?  Nggak denger teriakan ku apa. Nggak peka! Setelah keluar dari kamar mandi, “Hei mas, tadi siapa yang matiin lampu kamar mandi? Nyebai banget” Tanyaku dengan nada kenceng. “bla bla bla bla” “Hah? Siapa?” “Nanti aja, tak kasih tau” Masih...

Senewen

Hari Sabtu kemarin tepatnya tanggal 18 Februari 2016. Aku merasa nggak nyambung, nggak fokuslah, dan nggak konsentrasi. Pagi itu aku disuruh ayahku beli bakso sejumlah tiga porsi. Kali ini konsentrasiku belum terganggu. Aku pulang membawa bakso sejumlah tiga porsi yang diinginkan ayahku. “Dek, kalau mau nggoreng cumi-cumi itu pakai tepung terigu, tepung bumbu instan, atau tepung beras?” Kakakku memecah konsentrasiku dengan handphoneku. Aku berfikir sejenak. Apa ya emmm. Kalau pakai tepung terigu pastinya jadi kayak gorengan yang dijual di pinggir jalan. Kalau tepung beras,, emm bisa juga. Atau malah bisa jadi rempeyek? Haaa. Tepung bumbu instan juga bisa nih. Jadi yang mana ni yang paling tepat? “Yaudahlah, tanya ibu saja” celetuk kakakku. “Wokay” Akhirnya, diantara tiga tepung itu, tepung bumbu instan lah yang terpilih. Aku langsung menyambar rok dan kerudung. Menggenjot pedal sepeda perlahan hingga sampailah di minimarket terdekat. Sesampainya di rak tepung dan kawan-k...

Sate dan Soto

Hari itu hari Ahad. Tepatnya tanggal 15 Januari 2016. Yap, hari yang paling gabut sedunia. Hari dimana gravitasi kasur lebih kuat dari berat badan sendiri :D Grup whatsapp sudah ramai sejak jam lima pagi. Sementara hujan rintik rintik perlahan membasahi bumi. Syahdu, untuk balik ke tempat tidur lagi. Jam setengah enam pagi aku langsung menyambar handuk lalu mandi secepat mungkin. Ini benar-benar rekor atas pencapaianku sendiri. Mandi di hari libur sepagi ini hahaha. Memakai kaos karang taruna, celana training, sepatu olahraga lalu gassspol menuju lapangan Tamantirto. Yaelah, lapangan yang Cuma selemparan bola masih pakai motor. Iya, yang ngelempar manusia raksasa. Sampai lapangan, instruktur udah nangkring di panggung. Aku dengan santainya melenggang naik motor di depan ketua karang taruna. Maafkeun telat. Senam kali ini berbeda. Stand sponsor turut memeriahkan senam. Juga doorprise lain yang lebih menggiurkan. Gratis pula. Senam dimulai. “Mbak ayo senam” Ajak seorang pemudi...

Kampungku, dulu . . .

Kamu tidak lupa kan? Sewaktu kita kecil, tepatnya empat belas tahun silam ketika kau dan aku dalam tahap akhir balita. Tak peduli bahwa aku ini perempuan, kamu selalu mengajakku bermain layangan di sawah. Menarik ulur senar hingga buat lupa saatnya waktu makan siang. Kampung halaman kami yang dulunya hijau menghampar kini berubah menjadi pondasi bangunan. Ramadhan, memang berkesan. Tempat tongkrongan yang paling utama ialah masjid. Setelah subuh, hal yang paling sering kami lakukan ialah jalan-jalan. Padahal lumayan untuk menguras tenaga. Masih dengan memakai mukena dan sarung tentunya melewati jalan setapak sawah. Apalagi kalau hari belum terang, lewat jalan rerimbun pun kami hindari. Udara yang masih dingin, segar kami hirup seleganya. Merangkai bando dengan bunga yang tumbuh liar. Duduk beralaskan sandal masing-masing. Kau masih ingat susasana kampung saat itu kan? Atau saat tetangga mempunyai acara hajatan. Sedang ibuk kami memasak di dapur menyiapkan makanan, tanpa rasa...