Langsung ke konten utama

Pulau Bali #2



Hari ini cuaca cerah. Tak ada mendung sama sekali. Hari ini masih hari pertama di Pulau Bali. Sejak berlabuh di Pelabuhan Gilimanuk, suasana Bali memang sudah teras. Banyak pura, sesajian, dan pantai yang indah. Banyak pula terlihat orang memakai udeng bagi laki-laki. Udeng merupakan simbol linggayoni. Lingga yang berarti laki-laki dan yoni yang berarti perempuan. Kalau perempuan banyak mengenakan pakaian nista. Nista merupakan pakaian adat Bali, bagi laki-laki tidak mengenakan sarung dan bagi perempuan mengenakan selendang. Perempuan di Pulau Bali banyak rambutnya yang dikepang ataupun dibiarkan terurai begitu saja. Masing-masing mempunyai makna tersendiri.
Pagi itu bus melaju pelan. Arus lalu lintas pagi ini tak terlalu ramai karena tidak bersamaan dengan anak sekolah dan orang bekerja. Aku hanya terdiam. Kepalaku kusandarkan pada kursi didepanku. Semakin lama-semakin mengantuk.
“Kenapa diem aja. Galau ya?” suara Bli mengagetkanku.
“Hehe, enggak papa kok Bli” Jawabku singkat.
“Gak usah mikirin pacar lho” Ucap Bli dengan nada menggoda.
“Aku hanya terdiam, lalu membuang muka ke arah luar”
Siapa pula yang baru galau? Lha wong aku cuma menyandarkan kepalaku kok, batinku.  Lalu Bli, menjelaskan lagi seluk beluk Pulau Bali. Aku bangun dari sandaran kursi depanku lalu. Aku mendengarkan penjelasan Bli sambil mencatat lagi. Iya, di buku pink ku.
Aku penasaran. Kenapa setiap pertanyaanku dengan mudah di jawab oleh Bli. Mungkin pertanyaanku terlalu mudah. Tapi, aku udah berkali-kali bertanya. Tak apalah. Kemudian aku mengaangkat tangan. Aku akan menuntaskan rasa kepoku. Juga bertanya, agar Bli tak bisa menjawabnya. Hahaha *tawajahat.
“Ya, silahkan tanya”
“Bli, apa perbedaan antara tari  adat di Jogja dan di Bali? Dan apa yang menyebabkan perbedaan tersebut?”
Sebagai anak yang pernah ikut ekstrakurikuler tari, mungkin memang masuk akal. Kulihat Bli terdiam, mungkin berfikir.
“Kali ini, Bli belum bisa menjawab pertanyaan tersebut. Lain kali Bli akan cari tahu jawabannya ya?”
“Yes, rencanaku berhasil. Yes yes yes” Aku berbicara dalam hati.
***
Kali ini bus lebih lama di jalanan daripada lompatan objek wisat tadi. Ya, di dalam bus. Kali ini aku akan mendengarkan lebih banyak cerita tentang Pulau Bali. Memang agak membosankan. Tapi berkat buku dan pulpen yang aku bawa, suasana lebih nyaman. Aku bebas menuangkan pendapat, inspirasi, ide tanpa diketahui siapapun dan tanpa takut dimarahi.
Suasana semakin lama semakin buatku mengantuk. Tapi tidur untuk saat itu di sayangkan. Pemandangan indah akan terlewati begitu saja karena tidur. Bli yang dari tadi bercerita, semakin lama semakin tak kudengar. Kulihat kembali teman bagian bus belakang. Gila, mayoritas temanku tidur semua.
“Ada yang mau tanya lagi?” tanya Bli dengan logat khas Balinya.
Sementara itu, aku hanya sibuk mencorat-coret bukuku. Coretan tak beraturan. Kalaupun dibandingkan dengan anak TK pasti jauh lebih baik anak TK tersebut. Semua dalam bus terdiam. Tak ada satu tanggapan pun dari kami. Suasana bus, sunyi.
“Oh tak ada, yaudah Bli lanjut aja ceritanya”
Cerita Bli hanya akan menjadi pengantar tidur temanku. Bli bercerita tentang pakaian adat di Pulau Bali.
“Kalau di Pulau Bali itu ada tiga jenis pakaian adatnya. Yaitu pakaian utama, madya, dan nista. Pakaian utama biasanya dipakai saat upacara pernikahan. Pakaian madya itu ciri khasnya kalau yang laki-laki memakai udeng dan sarung. Yang terakhir pakaian nista. Biasanya digunakan saat dirumah. Pakaian nista ini memakai selendang dan tidak memakai sarung. Seperti orang itu” Semua mata tertuju arah luar yang Bli tunjuk. Aku hanya terdiam.
“Kerudung biru mau tanya lagi????” Bli menatap mataku. Aku merasa tidak memakai kerudung warna biru. Namun hijau. Kemudian aku menoleh ke belakang. Lah, belakangku teman laki-lakiku semua.
“Iya, kamu yang baru aja menoleh itu”
Ohhh, aku ternyata.

Komentar