Langsung ke konten utama

Postingan

Merah Putih yang Menggantung #1

“Tanah air pusakaaaaa” “Indonesia tercintaaaaa” “Syukur aku sembahkan kehadiratMu Tuhaannnn” *** Ahad pagi itu mendung. Bermalas-malasan di atas ranjang mungkin itu kegiatan terbaik yang terlintas di benak kami. “Hoammm” Mbak Lisa menutup mulutnya dengan tangannya. Sementara itu, aku terduduk tak bersemangat. Juga teman-teman lainnya. “ Lagune marai ngantuk yo ?” “He.em mbak” Setengah berlari dengan males-malesan aku menuju VCD player, kuganti theme song pagi itu dengan lagu Hari Merdeka. “Mer deeee kaaa. Sekali merdeka tetap merdekaaa. Selama hayat masih di kandung badan. Kita tetappp. . . .” “ Nah, ngene kan semangat ” ucapku. “Cek cek” aku mengetes sebuah mic. “ Loh, kok ra ana suarane?” “Cek cek” aku mengetes satu mic yang lainnya. Aku memeriksa kabel-kabel yang tertancap di sebuah alat berbentuk balok itu. Aku mendesis. Ternyata belum disambungkan. Huft. “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh. Pengumuman. Pengumuman ditujuk...

Chinese

Semenjak tadi, dari awal ceramah sampai mau ditutup pengajiannya, tiga anak-anak ini rame. Dari mulai cekikikan nggak jelas sampai ketawa yang suaranya agak dan bener-bener banter. Lalu, ibu-ibu sebelah menatap tajam yang kelihatannya terganggu dengan kelakuan tiga anak ini.   Ya, sebenarnya bukan kelihatannya terganggu tapi, ya memang bener-bener terganggu. Aku yang merasa tertua diantara kumpulan anak-anak ini segera bertindak. Tapi, paling pol mentok ya cuma bilang ‘ssssttt’. “ Mbak, mau nang mburimu ana kembang ra ?” Kembang yang dimaksud adalah bunga kamboja. “ Hahh?” Aku langsung menoleh kebelakang dari tempat dudukku. “ Nah, kuwi ana nang cerak sandal”   Aku menunjuk bunga kamboja putih yang berjarak satu meteran di belakangku. Lalu, mereka bertiga yakni adikku dan dua orang kakak adik berkacamata dengan muka mirip, seperti aku dan adikku ngakak banter sambil bilang ‘hiii’ ketakutan, tanpa rasa bersalah. Begitu mereka melihatku menatap mereka tanpa eksp...

Rabu-

*Liat jam* Lalu kedip-kedip. Wkwk. Baru jam 13.00 kurang 13 menit. Kali ini ke perpus sekolah. Biasanya ke perpus cuma pinjem buku terutama novel. Sayang banget ada waktu tapi nggak mau ngisi blog yang udah mulai sepi ini. *maafkan aku.  Ini, setelah menulis pembahasan kadar lemak dalam sampel susu bubuk coklat. Lalu di emailkan ke temen. Temen satu kelas sih lebih tepatnya. Nah, baru inget. Di pembahasan tadi belum ada persamaan reaksi. Duh, males juga ngasih reaksinya. Atau searching aja (?). Lemak + Amonium hidroksida + alkohol + Etil eter + Petroleum eter hasilnya jadi apa? Bingung sendiri kan? Aku juga bingung. Oh iya baru inget. Besok Kamis, itu. Iya, sehari lagi ada ulangan Analisis Proksimat. Materinya ada analisis vitamin C, Analisis kadar vanili, dan ya ampun. Materi terakhir ya praktikum menganalisis bahan makanan yang judulnya bebas ditentuin kelompok. Apa??? Kalau reaksi lemak tadi yang keluar gimana? Kan aku cuma bisa ngelihatin soal...

Mimpi, Kau Kugenggam~

Pagi ini, begitu suara mesin motor berhenti tepat di samping rumahku, aku langsung beranjak dari tempat tidurku. Dengan keadaan setengah sadar, aku mulai membuka koran, halaman demi halaman. Begitu sampai di halaman 11 mataku terbelalak. “Aaaaaaa” aku menjerit histeris. Tanpa toa pun suara cemprengku sudah didengar satu kampung. Wkwkwk, terlalu alay. Ada fotoku, Alfa, Nira, dan Riza terpampang di koran harian kotaku. Tak, menyangka. Benar-benar ajaib. Tulisan hasil pemikiranku akhirnya terbit. Auuwoooo. Senangnya. Padahal, berbulan-bulan yang lalu aku mengirimkan cepern tapi nggak terbit juga, hehe. Yaaahhh, kenapa cuma setengah rubrik? Padahal, hari-hari biasanya fulllllll satu rubrik. Ini juga kenapa cuma hitam putih tok? Padahal, biasanya fullcolour. Duh, nasib terbit perdana setelah lebaran. Nasib kelompok tiga sebagai gong pembuka. Pffffttt ._. Kali ini, hawa bersahabat. Pada hari-hari lainnya pun juga bersahabat. Satu mimpiku tercapai. Reporter remaja, yang kuperjua...