Langsung ke konten utama

Menjemput Sunrise #2



“Ya, tya bangun. Ayo bangun” Kata Tutu, temanku yang duduk di sampingku. Tutu terus mengguncang-guncangkan badanku. Aku malas sekali untuk bangun pagi ini. Badanku masih pegal semua. Sesaat kemudian, Tutu tidak mengguncang-guncangkan tubuhku lagi. Mungkin ia terlampau kesal untuk membangunkanku.
          Walaupun mataku masih terpejam, aku masih bisa mendengarkan suasana dalam bus. Aku mendengar temanku lewat di sampingku. Ramai. Namun, kali ini suasana bus sepi. Aku penasaran. Perlahan-lahan ku buka mataku. Benar, tak ada seorangpun yang menemaniku di dalam bus. Ini gila, aku ditinggal dalam bus. Sendirian pula. Benar-benar tega. Aku langsung turun dari bus.
          Kali ini, aku benar-benar tak percaya. Aku mencubit pipiku sendiri. Sakit, ini bukan mimpi. Ini bukan mimpi. Bus sudah sampai di Tanah Lot. Tujuan pertama wisata kami di Pulau Bali. Suasana masih gelap, namun tak segelap saat bus berhenti di depan masjid. Aku kembali bersemangat. Suasana pagi ini begitu menyenangkan.
          Secepat mungkin aku berlari untuk menyusul teman-temanku yang sudah beberapa menit lalu mendahuluiku. Lumayan, olahraga lari di Pulau Bali. Ternyata, sudah banyak orang yang mengunjungi Tanah Lot walaupun hari masih pagi. Ombak berdebur yang berirama. Pulau di tengah pantai yang memukau begitu sinar matahari menyinari perlahan. Arah sebelah timur, baru saja matahari menampakkan dirinya. Kemilau warna oranye, kuning, lalu biru tersusun begitu indah. Aku bersyukur dapat menikmati sunrise di Tanah Lot.
          Kulihat teman akrabku sedang berfoto ria. Kemudian aku menghampiri mereka. “Udah bangun set?” Tanya temanku sambil tertawa. Kelihatannya sih, sedang mengejekku. “Udah, hehe. Di bus cuma ada aku. Lalu aku nyusul kalian” Jawabku sambil tersenyum namun agak malu.
          Aku dan temanku berfoto ria dengan background pulau yang berada di tengah pantai. Sunrise tak luput untuk diabadikan. Aku benar-benar bahagia. Pantai adalah tempat yang paling aku senangi. Deburan ombak, cipratan air, udara pantai semuanya aku suka. Entah, sejak kapan. Kalian tahu? Jarak antara laut dan langit terlihat satu garis lurus saja dari bibir pantai. Aku benar-benar menyukai pantai.
          Sunrise, adalah peristiwa yang wajib aku lihat ketika pagi menjelang. Ketika hari libur tiba, aku betah untuk berlama-lama memandangi sunrise. Pemandangan yang begitu meneduhkan. Saat pantai dan sunrise kulihat dalam satu waktu, ini benar-benar pengalaman yang indah. Apalagi aku melihat bersama teman-teman yang kocak, gila, dan aneh. Hehe, semua itu ada yang tidak benar.
          “Byuurrrr”                                                                     
          “Aaaaaaaa. Apa-apaan ini. Awas kau Dev” Aku kesal lalu tertawa mengejar Devi untuk membalaskan dendamku. Kaos hitamku, kerudung hitamku basah kuyup. Aku duduk menyendiri di bibir pantai. Menikmati sunrise dan deburan ombak. Tiba-tiba seember air pantai yang asin mengguyur tubuhku.
          Akhirnya, Devi juga basah kuyup. Lalu, kami tertawa bersama. Timbullah akalku. Incaran kami yaitu baju kering. Siapapun itu akan ku guyur air pantai.
“Eh foto yuk. Sayang untuk dilewatkan. Basah kuyup di Tanah Lot”
          Kami bersepuluh lalu melompat dan chissssss. Kamera menangkap gambar. Kami tertawa terkekeh bersama ketika melihat foto. Ada momen ketika aku menyendiri. Ada foto saat Devi dari belakang berjalan perlahan-lahan mendekatiku membawa seember air. Dan ini yang paling gokil. Raut mukaku yang aneh ketika air dalam ember sudah habis menyiram tubuhku.
          “Halooo. Selamat pagi”
          Suara yang sudah tidak asing lagi bagiku. Aku membuka mata. Aku terbelalak tak percaya. Aku menengok jam. Jam delapan pagi WITA. Bus berada di parkiran Wisata Tanah Lot. Semua teman-temanku langsung turun dari bus. Jadi, aku tadi hanya mimpi melihat sunrise di Tanah Lot? Ah, sudahlah.


Komentar